Kalkulator Nilai Berbobot
Hasil
Nilai berbobot
- Rata-rata biasa dari nilai yang sama
- 86,60%
- Total bobot
- 100,0
- Butir dalam daftar
- 5
Nilai berbobot adalah rata-rata berbobot: kalikan skor tiap komponen dengan bobotnya, jumlahkan hasilnya, lalu bagi dengan total bobotnya. Tempelkan skornya dan bobot yang bersesuaian, baik satu nilai per baris maupun dipisah dengan titik koma. Kalkulator nilai berbobot ini mencetak nilai mata kuliah yang berbobot, rata-rata biasa dari skor yang sama, total bobotnya, dan berapa butir yang terhitung. Bobotnya tidak harus berjumlah 100 — totalnya dicetak supaya Anda bisa melihat apa yang sebenarnya Anda isi.
Rumus
nilai akhir = Σ(skorᵢ × bobotᵢ) ÷ Σbobotᵢ
- skorᵢ
- Skor yang diperoleh pada komponen ke-i, sebagai persentase dari nilai penuh butir itu — 92 berarti 92%, bukan 0,92. Skor di atas 100 diterima, karena nilai tambahan memang ada; tidak ada yang memangkasnya di sini
- bobotᵢ
- Seberapa besar komponen itu diperhitungkan terhadap nilai mata kuliah, dalam satuan apa pun yang dipakai silabus Anda — persen (20), desimal (0,2), atau poin (2) semuanya bisa, asalkan satu satuan dipakai di seluruh daftar
- Σbobotᵢ
- Jumlah bobotnya, tercetak di hasilnya. Angka inilah pembaginya, jadi daftar yang bobotnya berjumlah 85 dan bukan 100 tetap menghasilkan nilai berbobot yang sah — dan total yang bukan 100 adalah tanda paling cepat bahwa ada butir yang terlewat dari daftar
- nilai akhir
- Nilai mata kuliah yang berbobot: tiap skor ditarik ke arah skor yang bobotnya paling besar. Kalau semua bobotnya sama, angkanya persis rata-rata biasa dari skor yang sama, dan itulah sebabnya keduanya dicetak berdampingan
Pakai halaman ini saat silabus menyebut nilai mata kuliah disusun dari beberapa bagian — tugas 20%, kuis 20%, UTS 30%, UAS 30% — dan Anda ingin angkanya, bukan kira-kira. Halaman ini menjawab dua pertanyaan yang paling sering muncul selama satu semester: di mana posisi saya sekarang, dan apa dampak membuang satu butir pada nilai saya. Karena tiap skor dimasukkan bersama bobotnya sendiri, daftar yang sama bisa dijalankan ulang dengan skor hipotetis pada ujian akhir untuk melihat akibatnya sebelum terjadi, dan total bobotnya dicetak supaya butir yang terlewat terlihat. Kalau mata kuliah Anda dinilai berdasarkan SKS dan bukan bobot persen, halaman IPK memakai hitungan yang sama dengan SKS sebagai bobotnya.
Contoh hitungan
Lima butir bernilai, bobotnya berjumlah 100: 87,6 lawan 86,6 tanpa bobot
- Jumlah berbobot: 85 × 20 + 90 × 20 + 78 × 10 + 92 × 20 + 88 × 30 = 1.700 + 1.800 + 780 + 1.840 + 2.640 = 8.760
- Total bobot: 20 + 20 + 10 + 20 + 30 = 100
- Nilai akhir: 8.760 ÷ 100 = 87,6
- Rata-rata biasa: (85 + 90 + 78 + 92 + 88) ÷ 5 = 433 ÷ 5 = 86,6
Angka 78 adalah skor terendah tapi berbobot paling kecil, dan 88 berbobot paling besar — jadi nilai berbobotnya duduk satu poin penuh di atas rata-rata biasa. Pada mata kuliah yang ujian akhirnya berbobot 30%, inilah selisih yang berarti. Perhatikan bahwa total bobotnya tepat 100 di sini; contoh berikutnya menunjukkan bahwa itu tidak wajib.
Bobot yang berjumlah 4, bukan 100: nilainya tetap 87,5
- Jumlah berbobot: 90 × 3 + 80 × 1 = 270 + 80 = 350
- Total bobot: 3 + 1 = 4
- Nilai akhir: 350 ÷ 4 = 87,5 — jawaban yang sama dengan bobot 30 dan 10
- Rata-rata biasa: (90 + 80) ÷ 2 = 85
Hanya perbandingan antar bobot yang berpengaruh. 3 dan 1 menggambarkan mata kuliah yang sama dengan 30 dan 10, atau 0,75 dan 0,25, dan semuanya memberi 87,5 — pembagian dengan total bobot itulah yang membuat satuannya saling menghapus. Ini juga sebabnya halaman ini tidak pernah menuntut bobotnya berjumlah 100: nilai dari skala 4 adalah jawaban yang utuh.
Satu butir berbobot 100, satu berbobot nol: 100 berbobot, 50 tanpa bobot
- Jumlah berbobot: 100 × 100 + 0 × 0 = 10.000 + 0 = 10.000
- Total bobot: 100 + 0 = 100
- Nilai akhir: 10.000 ÷ 100 = 100 — butir kedua tidak berbobot, jadi ia tidak mengubah apa pun
- Rata-rata biasa: (100 + 0) ÷ 2 = 50, karena rata-rata biasa tidak bisa melihat bobot nol itu
Bobot nol berarti butirnya tidak diperhitungkan, dan itu hal yang nyata di silabus: kuis yang dibuang, latihan, tambahan opsional. Dua angka yang tercetak di sini berjarak 50, dan itu peragaan paling jelas mengapa angka berbobotlah yang dipakai sebuah mata kuliah. Kalau Anda tidak bermaksud memasukkan bobot nol, contoh ini juga memperlihatkan bagaimana bobot nol yang tidak sengaja terlihat.
Batasan
Halaman ini menghitung rata-rata berbobot; ia tidak tahu silabus Anda. Butir mana yang ada, berapa nilainya, dan apakah skor terendahnya dibuang semuanya keputusan mata kuliah itu, dan membuang satu skor harus dilakukan dengan menghapusnya dari kedua daftar di sini. Tiap skor diperlakukan sebagai persentase dari nilai penuh butirnya sendiri — UTS yang dinilai dari 50 harus dikonversi ke persen sebelum dimasukkan, karena halaman ini tidak bisa melihat penyebutnya. Nilai di atas 100 diterima karena nilai tambahan memang ada, tetapi tidak ada yang memeriksanya terhadap plafon milik mata kuliah itu. Kedua daftar harus sama panjang, karena pemasangannya berdasarkan urutan, dan halaman ini tidak pernah mengatakan apakah nilai hasilnya lulus: batas lulus berbeda antar kampus dan antar negara.
Pertanyaan yang sering diajukan
- Bagaimana cara menghitung nilai berbobot sebuah mata kuliah?
- Kalikan skor tiap komponen dengan bobotnya, jumlahkan hasilnya, lalu bagi dengan jumlah bobotnya. Skor 85; 90; 78; 92; dan 88 pada bobot 20; 20; 10; 20; dan 30 memberi 8.760 ÷ 100 = 87,6. Jumlah berbobot dan total bobotnya keduanya tercetak di atas, jadi pembagiannya bisa diperiksa ulang terhadap panelnya. Satu hal yang perlu dipastikan sebelum mempercayai jawabannya adalah bahwa bobotnya menggambarkan mata kuliah yang benar-benar Anda ambil.
- Apakah bobot saya harus berjumlah 100?
- Tidak. Nilainya dibagi dengan berapa pun total bobotnya, jadi 3 dan 1 menggambarkan mata kuliah yang persis sama dengan 30 dan 10 — keduanya memberi 87,5 pada skor 90 dan 80. Hanya perbandingan antar bobot yang mengubah jawabannya, dan itulah sebabnya halaman ini tidak menolak total yang bukan 100. Yang berguna dari totalnya adalah pembukuan: kalau silabus Anda berjumlah 100 dan halaman ini mencetak 85, ada butir yang terlewat dari daftar.
- Kenapa nilai berbobot berbeda dari rata-rata skor saya?
- Karena rata-rata biasa memperlakukan setiap butir sama penting, sementara nilai berbobot memberi ujian akhir suara sebesar yang diberikan silabus. Pada contoh pertama nilai berbobotnya 87,6 dan rata-rata biasanya 86,6, dan selisihnya berasal dari satu butir yang berbobot 30%: skor tertinggi duduk di situ. Mencetak kedua angka berdampingan itu disengaja — kalau semua komponen berbobot sama, keduanya cocok persis, dan selisih pada kasus lain adalah pengaruh pembobotannya.
- Bisakah nilai berbobot melewati 100 persen?
- Bisa, kalau skor yang masuknya sendiri di atas 100. Nilai tambahan itu nyata: satu pertanyaan bonus bisa membuat sebuah komponen bernilai 105, dan skor tidak dipangkas di sini karena tidak ada satu aturan pun yang menentukan kapan hal itu berhenti mungkin — batas itu ditetapkan tiap mata kuliah. Kalau semua skornya 100 atau kurang dan bobotnya persen, hasilnya juga tidak bisa melewati 100, sebab ia rata-rata berbobot dari angka-angka yang semuanya paling besar 100. Rata-rata biasanya menaati aturan yang sama.
- Di mana nilai mata kuliah dari halaman ini saya pakai?
- Langkah berikutnya yang lazim adalah halaman nilai ujian akhir: masukkan nilai sekarang yang diberikannya, nilai yang Anda inginkan, dan seberapa besar porsi ujian akhir, lalu halaman itu mengembalikan skor yang harus dicapai ujian akhirnya. Urusan sebaliknya memakai angka yang sama — memeriksa transkrip dengan hitungan sendiri, atau menghitung IPK, yang merupakan rata-rata berbobot yang sama dengan SKS sebagai pengganti bobot komponen.
Referensi
- Measures of Location — e-Handbook of Statistical Methods, section 1.3.5.1 (the arithmetic mean as a measure of location, its sensitivity to one heavy value, and the weighted form that this page computes) — National Institute of Standards and Technology (NIST)
- Measures of the Center of the Data — Introductory Statistics 2e, section 2.5 (the mean as the balance point of a list of values, worked through on small samples) — OpenStax, Rice University